RSS Feed

Penonton Televisi Tidak Pasif

Posted on

Teori Agenda Setting bilang, media massa memiliki kekuatan untuk menentukan informasi mana yang penting dan yang tidak penting untuk masyarakat. Saking kuatnya media, masyarakat gampang percaya dengan apa yang dikatakannya.

Gampangnya, kalau media massa bilang program adu bakat itu menarik, maka masyarakat akan senang menontonnya. Kalau perlu akan beramai-ramai mendaftar.

Teori jarum hipodermik bilang, masyarakat itu pasif. Kalau media menyuntikkan sebuah informasi, maka masyarakat akan menelannya bulat-bulat. Kalau televisi bilang bahwa si-A adalah koruptor, maka masyarakat akan mengatakan bahwa si A korupsi, tanpa melihat fakta hukum yang ada di persidangan.

Tapi…. pernahkah berpikir bahwa penonton televisi sebenarnya tidak sepasif yang kita kira?

Mas Gatot Triyanto (Direktur Pemberitaan Trans TV) pernah bercerita dalam salah satu kuliah di jurusan Penyiaran, Ikom, Paramadina tentang hal ini. Menurut Mas Gatot, sebuah program di Trans TV punya waktu tiga bulan untuk menunjukkan kinerjanya (baca: memperoleh share yang tinggi).

Kalau dalam waktu tersebut sebuah program tidak bisa perform (maksudnya memperoleh share kurang dari yang diharapkan bagian sales untuk bisa dijual), maka program tersebut akan diturunkan alias berhenti tayang.

Mas Gatot juga bilang bahwa sebenarnya pemirsa televisi itu cerdas, tahu mana yang bagus buat dirinya dan mana yang tidak. Pemirsa TV menurutnya bisa membedakan mana program yang isinya informasi bermanfaat dan mana yang tidak.

Sebagai contoh begini:

Tayangan Ceriwis yang fenomenal itu (maksudnya bertahan dari zaman Indra Bekti imut-imut sampai Bekti Menikah dan semakin amit) di awal kemunculannya memperoleh share yang sangat besar. Karena share-nya bagus, maka bagian sales semakin bersemangat untuk menjual program tersebut dan produsen pun semakin getol untuk memasang iklan di sana.

Akibatnya, program Ceriwis “berat” dengan iklan. Mulai dari penayangan logo produk di sudut atas layar televisi anda, dialog “maksa” antara Bekti dengan seorang artis tentang produk tersebut, adegan dimana bekti mengonsumsi produk tersebut, kuis, sampai ucapan bekti kepada pemirsa TV untuk membeli atau memakai produk tersebut.

Dari satu program yang “berat” iklan itu tadi, TV meraup uang yang banyak. Kalau saya tak salah ingat, Mas Gatot menyebutkan bahwa dalam program Bukan Empat Mata, misalnya, Tukul menyebut nama produk saja harganya bisa sampai Rp.100juta. Hampir semua unsur dalam program TV bisa jadi iklan.

Nah….. Akan tetapi…..

Program yang seperti itu biasanya hanya tinggal tunggu waktunya saja. Maksudnya, karena konten iklan lebih banyak daripada informasi atau hiburan yang ada dalam sebuah program, akhirnya pemirsa malas untuk nonton. Mereka pindah ke lain hati. Pindah ke program yang lebih bermanfaat untuk mereka.

Ibarat kata, nilai jual program tersebut akhirnya mencapai titik balik dan lama kelamaan ditinggal penonton. Dan tentu sahajalah bisa ditebak: ditinggal pengiklan.

Jadi, menurut pemaparan Mas Gatot di atas, saya menyimpulkan bahwa masyarakat itu sebenarnya bisa memilih. Cukup dengan tidak menonton sebuah program, biarkanlah program itu share-nya jelek, dan akan dihentikan tayang oleh stasiun televisi bersangkutan.

Hmm… Kalau hal itu memang benar, mari kita kasih “hukuman” progra TV yang jelek. Daripada hanya mengutuk di twitter atau menyumpahi tayangan Tv yang jelek, mari kita ganti ke saluran lain. Syukur-syukur kalau nemu program yang bermanfaat.

Kalau tidak ketemu juga, coba nonton National Geographic atau Discovery Channel. Masih bilang nggak bermanfaat?

Yaudah atuh… matiin aja televisinya.

About ikakarlina

Lecturer in Communication Department, Universitas Paramadina, Jakarta. Field of research interest: new media, intercultural communication, moslem youth, public relations

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: