RSS Feed

Menjelajahi Baduy Bersama Bagol

Posted on

SEBUT saja nama Bagol pada penduduk Baduy dan mereka akan menerima Anda di rumahnya. Lelaki berkulit sawo matang, rambut kering panjang sebahu, dan perawakan sedang ini sudah seperti keluarga bagi penduduk Baduy Luar ataupun Baduy Dalam.

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan Baduy merupakan sebutan yang diberikan penduduk luar kepada kelompok masyarakat ini, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan Badawi atau Bedouin Arab yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).

Sudah delapan tahun Bagol keluar masuk Baduy mengantarkan turis asing, domestik, ataupun peneliti. Mulanya, lelaki bernama asli Gunawan Indra Permana ini menemani fotografer kawakan Don Hasman masuk ke Baduy. Karena kagum akan nilai-nilai yang dimiliki penduduk Baduy, dia pun sering mengunjungi masyarakat adat tersebut. “Ada rasa kangen juga kalau lama nggak ke sana,” ucapnya.

Karena keakraban dengan Baduy, beberapa rekan memintanya untuk menemani mereka ke sana. Lama-kelamaan, dia pun sering dikenal sebagai guide ke Baduy. Seringnya membawa orang ke sana, membuat Bagol menyadari kesalahan persepsi yang ada selama ini tentang Baduy.

“Ada seorang karyawan perusahaan yang awalnya takut dengan penduduk Baduy. Dia sering diberitahu orang tuanya, kalau sudah ke Baduy tak bisa pulang lagi, atau tentang cerita-cerita mistis. Ternyata, selama dua hari di sana dia diterima dengan baik, bahkan diberi kelapa untuk dibawa pulang,” ceritanya.

Banyak orang yang datang ke Baduy tanpa mempelajari dulu nilai-nilai mereka ataupun daerahnya. Suatu kali, saat sedang mencari madu di hutan, Bagol bertemu dengan sekelompok murid sekolah. “Ternyata dibiarkan berkeliaran saja sama gurunya, padahal mereka tidak tahu daerah tersebut. Akhirnya saya temani untuk mencari rombongannya.”

Jika ingin datang ke Baduy, sebaiknya luangkan waktu minimal tiga hari. Jika mengantarkan wisatawan asing, biasanya Bagol hanya membawa mereka ke Baduy luar. “Mereka tidak bisa masuk ke dalam karena dianggap tabu. Yang bisa ke dalam hanya orang Indonesia, muslim, sudah disunat, dan melayu,” ujar lelaki kelahiran Jakarta, 18 Juli 1975 ini.

Untuk wisatawan Asing, biasanya Bagol mengajak mereka ke Cibangkok, Gazebo, Cipaler, perajin golok di Cisadane, dan jembatan akar. Jembatan akar adalah jembatan gantung terbuat dari bambu dan akar, tingginya sekitar enam meter dengan panjang sekitar 10 meter. Di sana, wisatawan asing biasanya diajak mandi di kali. “Mereka paling senang di jembatan akar karena sekalian main di kali,” ujarnya tertawa.

Untuk wisatawan domestik, tentu saja diajak hingga ke Baduy Dalam. “Tapi sebelumnya saya beri pemahaman dulu tentang ada boleh dan yang tidak.” Di Baduy, mereka bisa menikmati pengalaman tidur di rumah penduduk, makan masakan mereka, dan yang terpenting berinteraksi langsung.

Pada dasarnya penduduk Baduy ramah dan mau ditemui. Bagol juga sering mengajak mereka bertemu kepala kampong dan kepala suku tertinggi. Untuk bertemu mereka, biasanya peserta menyiapkan oleh-oleh berupa ikan asin dan gambir. “Peserta juga bisa memotret apa saja, asalkan itu untuk dokumentasi sendiri. Tidak boleh untuk disebarluaskan,” ucapnya.

Saking akrabnya dengan penduduk Baduy, rumah Bagol di daerah Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, sering diinapi penduduk Baduy yang mau ke Jakarta. Dia biasa mengantar mereka ke kebun binatang Ragunan atau Monas. Tentunya, dengan berjalan kaki. “Sering saya bercanda untuk mengajak mereka naik sepeda. Karena roda sepeda bisa mempermudah perjalanan, mereka tetap tidak mau. Akhirnya saya naik sepeda, mereka jalan,” katanya tertawa.

Selain itu, seringkali ada penduduk yang datang kepada Bagol dan menitipkan kerajinan buatan mereka di toko Bagol. Kerajinan itu berupa tas dari akar, gelang, baju, ataupun peralatan lain.

Dari pendapatan mengantarkan turis, Bagol sudah terbiasa menyisihkan dua persen untuk penduduk Baduy. Hanya, bagian ini dia berikan jika penduduk sedang hajatan, pesta pernikahan, atau kematian. “Itu pun dalam bentuk barang atau saya belikan ayam. Dengan begini, batin saya akan selalu terikat dengan mereka. Tak pernah sedikit pun saya mau membohongi atau mengerjai mereka.”

Dia juga mengamati masyarakat Baduy “dirusak” oleh para turis, dengan memberikan hadiah atau kenang-kenangan yang sebenarnya merupakan hasil teknologi. Orang Baduy pantang dengan teknologi, tapi sering turis yang memberikan senter atau pisau lipat. “Makanya sebelum berangkat saya selalu menekankan mereka tidak memberikan barang-barang yang sekiranya merusak mereka. Lama-lama, teknologi akan membuat mereka kecanduan dan membuat mereka meninggalkan segala pantangan yang ada,” ujar Bagol.

Dimuat di Jurnal Nasional, 1 Desember 2007
Ika Karlina Idris

foto saya ambil dari sini http://stat.kompasiana.com/files/2010/07/pemukiman_suku_baduy_luar11.jpg

About ikakarlina

Lecturer in Communication Department, Universitas Paramadina, Jakarta. Field of research interest: new media, intercultural communication, moslem youth, public relations

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: